Teten Siapkan Model Bisnis Korporasi untuk Koperasi

oleh -11 views

UPDATESULSEL.NEWS– Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, mengatakan, pihaknya telah menyiapkan model bisnis bagi koperasi pangan untuk masuk dalam skala bisnis layaknya korporasi.

Dengan model bisnis korporasi diharapkan koperasi semakin berdaya saing sekaligus guna mewujudkan ketahanan pangan nasional.

“Model bisnis ini diharapkan bisa diadopsi dan direplikasikan oleh koperasi-koperasi pangan di Indonesia,” kata Teten Masduki di Jakarta, Kamis (1/10).

Untuk tahap pertama, model bisnis itu diterapkan di Koperasi Perjuangan Usaha Tani, di Jombang, Jawa Timur, yang merupakan transformasi dari Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Sugihwaras, Jombang, Jatim.

Teten mengatakan, Presiden Jokowi kerap mengingatkan agar kelembagaan koperasi diperkuat, salah satunya untuk koperasi pangan.

Oleh karena itu, ia pun mengapresiasi transformasi Gapoktan menjadi koperasi, meskipun hal ini dinilainya belum selesai. Ini karena koperasi harus terus berkembang agar mampu menyejahterakan anggotanya.

“Koperasi ini sekarang mengelola 200 hektare lahan dengan 100 anggota, ini sudah cukup luas, walaupun bisa dikembangkan hingga 1.000 ha. Karena untuk membangun kelembagaan usaha koperasi ini agar semakin kuat, idealnya mencapai 1.000 ha,” imbuh Teten.

Teten mengungkapkan, pihaknya menyediakan dana bergulir melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM sebagai sumber pembiayaan bagi model bisnis tersebut agar terdukung dalam pengembangan usaha, modernisasi, dan perluasan usahanya.

“Konsep kami ini korporatisasi, nanti petani menjual produk ke koperasi, koperasi ini kemudian mengolah jadi beras. Lalu urusan ke pasar biarkan koperasi yang menangani, karena umumnya market itu bayarnya mundur sehingga petani tidak mungkin bisa karena keterbatasan modal,” ungkapnya.

Dengan model bisnis tersebut, koperasi juga akan melindungi petani dari permainan harga yang tidak wajar. Karena itu, koperasi harus diperkuat pembiayaannya untuk dapat menyerap produksi petani dan membantu pemberian modal petani, serta memperkuat investasi untuk pengembangan RMU (Rice Milling Unit) atau mesin penggilingan padi modern.

Di Belanda, Selandia Baru, dan Australia, kata Teten, koperasi menjadi wadah dalam usaha yang bersifat korporasi. Kelebihannya, keuntungan semua usaha tani dinikmati oleh seluruh anggotanya.

Selanjutnya, sambung Teten, koperasi juga harus mengembangkan digitalisasi agar saat masuk dalam skala bisnis ekonomi, tidak kalah dengan korporasi.

“Yang paling bagus itu jika koperasi juga memiliki offtaker dan kredit koperasi dijamin Jamkrida. Dengan begitu, koperasi akan sehat, efisien dan ada offtaker, pasti lembaga pembiayaan berebut menyalurkan biaya,” pungkasnya. (Kiki)