Secapa AD Jadi Klaster Covid-19, Pengamat: Ini Jelas ‘Warning’

oleh -135 views
oleh

UPDATESULSEL– Pengamat Intelijen, Pertahanan dan Keamanan yang juga Direktur Eksekutif Center of Intelligence and Strategic Studies (CISS,) Ngasiman Djoyonegoro, mendorong agar protokol kesehatan diperketat. Hal itu menyusul Sekolah Calon Perwira TNI Angkatan Darat (Secapa AD) Bandung, Jawa Barat, menjadi klaster baru Covid-19.

“Ini jelas warning, ya. Artinya, meski sekarang diberlakukan new normal, protokol kesehatan harus tetap diperhatikan,” kata Ngasiman, melalui pernyataan tertulisnya, Minggu (12/7/2020).

Secapa AD di Bandung menjadi klaster baru virus Covid-19 setelah sebanyak 1.262 siswa dan pengajar tertular virus tersebut. Jika Secapa AD saja bisa menjadi klaster baru, kata Siman, sapaan akrab Ngadiman, potensi di sekolah-sekolah lain juga cukup tinggi.

“Secapa AD yang punya kedisiplinan tinggi bisa jadi kluster baru, gimana dengan sekolah yang lain?,” tandasnya.

Oleh karena itu, Siman berharap, sekolah-sekolah di bidang angkatan lainnya, seperti Secapa Sesko dan Sespimti, sebaiknya harus memperketat protokol kesehatannya. Bahkan, kata dia, seharusnya diberlakukan secara daring saja seperti sekolah-sekolah lain pada umumnya.

Menurut Siman, para pimpinan harus melihat bahwa klaster baru Secapa AD harus menjadi pelajaran penting untuk mengantisipasi agar jangan sampai ada muncul klaster-klaster berikutnya karena inti normal baru adalah memulai dengan cara-cara yang baru, bukan dengan cara seperti semula.

“Inti new normal bahwa kita harus mulai cara-cara baru dalam berkehidupan, bukan menjadikan semuanya normal kembali. Artinya, new normal harus menjadi adaptasi kebiasaan baru,” terangnya.

Untuk itu, para pimpinan harus memberikan contoh soal adaptasi kebiasaan baru tersebut, misalnya dengan menggelar sekolah daring sambil menunggu situasi Covid-19 kondusif.

“Para pimpinan harus memberikan contoh, termasuk sekolah daring perlu digelar sebagai solusi,” katanya.

Kalaupun harus digelar sekolah tatap muka, lanjut dia, harus ada protokol khusus. Misalnya, siswa dengan usia berapa di bawah 45 tahun tatap muka, sementara yang usia di atas 45 tahun melalui daring.

“Faktor usia juga penting sebagai protokol khusus. Kalau sekolah yang usianya 45 ke atas, kegiatan fisiknya terbatas atau malah fokusnya klasikal, ya, sebaiknya daring saja,” tuntasnya. (Kiki)