‘Nasehat Bagi Penguasa’

oleh -61 views

Oleh Aswar Hasan

UPDATESULSEL.NEWS –  Dalam kitab At- Tibru Al- Masbuk fi Nashihati Al Mulk karangan Al Imam Abu Hamid Al Ghazali diriwayatkan, bahwa seorang Darwis (Sufi) dipanggil oleh seorang Penguasa untuk memberi masukan -nasehat-.

Sang Sufi itu pun memulai nasehatnya dengan berkissah. Suatu hari, seorang Raja menangis dengan amat sedihnya, sembari curhat kepada Tuhannya, dengan berkata; “Aku sedih bukan karena kehilangan pendengaran, tetapi aku sedih karena seorang rakyatku yang telah terzalimi datang di depan Istanahku, namun, aku tidak bisa mendengarkan apa masalahnya. Namun, aku masih bersyukur karena masih bisa melihatnya.

Penguasa Cina itu pun berpikir keras bagaimana bisa mengetahui jika ada rakyatnya yang terzalimi, Maka, sang Penguasa itu pun mengeluarkan maklumat yang menyatakan; “ barangsiapa rakyatnya ada yang merasa terzalimi, agar memakai pakaian merah. Lalu, sang Penguasa itu pun melakukan blusukan secara rutin sehingga dengan matanya, ia bisa menyaksikan secara langsung jika ada rakyat yang memakai baju merah. Si pemakai baju merah itu pun ia panggil, lalu oleh stafnya mencatat masalahnya.

Hasil identifikasi masalahnya itu pun langsung diselesaikan segera, tanpa basa- basi atau janji-janji tanpa kejelasan realisasi. Siapapun yang ketahuan dan terbukti menzalimi rakyatnya, segera dihukum, tanpa pandang bulu. Tak ada istilah hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Rakyat harus mendapatkan keadilan.

Usai mengkissahkan keadilan Penguasa Cina tersebut, sang Sufi itu pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin lihatlah betapa sang Penguasa Cina tersebut bukanlah seorang yang beriman, tetapi ia telah berusaha untuk berlaku adil bagi rakyatnya, sedangkan engkau seorang yang beriman.
*****
Nasehat sang Sufi itu kepada Amirul Mukminin (Penguasa di dunia Islam) sungguh bijak tapi tajam. Tanpa kritik mencela apalagi menghina, sarat hikmah dan contoh solusi penyelesaian masalah. Di samping itu, sang Sufi mengambil contoh model “Blusukan Penguasa” yang jauh dari target pencitraan diri, yang sarat sandiwara kebohongan.

Menjadi Penguasa memang kerap lalai dan terlena, lupa janji, hingga bertindak otoriter karena telah terseret jerat oligarki yang menyesatkan. Ingatlah ketika Ali bin Abi Thalib RA berkata: “Celakalah penguasa di bumi dari Sang Penguasa di langit. Kecuali jika ia bertindak adil ji Qur’an. Wallahu a’lam Bishawwabe. _____________________. *) Telah diterbitkan oleh Harian Fajar, di Kolom Secangkir Teh,13/2-2022