Mixing Vaccine di Indonesia Diperuntukkan Bagi Tenaga Kesehatan

oleh -27 views

UPDATESULSEL.NEWS- Sejauh ini ada yang sudah lolos uji terhadap beberapa kombinasi jenis vaksin untuk satu orang penerima atau praktik mixing vaccine. Khusus praktik mixing vaccine di Indonesia sejauh ini Kementerian Kesehatan hanya menetapkan peruntukannya untuk booster dosis ketiga bagi tenaga kesehatan.

Mengingat jenis vaksin Sinovac yang diterima oleh tenaga kesehatan pada dua dosis pertama, saat ini juga dialokasikan untuk populasi khusus misalnya untuk anak, ibu hamil, maupun menyusui.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan soal Mixing Vaccine ini dalam keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat, 27 Agustus 2021.

Untuk beberapa jenis vaksin yang sudah lolos uji, di antaranya percampuran antara AstraZeneca dan Pfizer di Jerman, AstraZeneca dan Sputnik di Azerbaijan, Sinovac dan AstraZeneca di Thailand, Sinovac dan Moderna di Indonesia.

“Jenis vaksin yang dapat dikombinasikan ini dapat dinamis seiring berkembang uji lanjutan lainnya,” kata Wiku.

Mengenai penjelasan vaksin sendiri, adalah substansi yang dibuat sedemikian rupa dari organisme yang sangat kecil penyebab penyakit atau agen yang mengandung racun atau protein tertentu. Tujuannya memberikan perlindungan terhadap tubuh dari penyakit tertentu.

Secara sederhana dari berbagai jenis vaksin Covid-19 yang dikembangkan, pada kategorinya, proses pengembangannya berdasarkan bahan baku yang digunakan.

Pertama, vaksin yang menggunakan seluruh bagian virus. Vaksin ini menggunakan seluruh bagian dari virus yang dapat dikategorikan menjadi vaksin inaktif dengan virus yang telah dimatikan oleh senyawa kimia, pemanasan, atau radiasi; vaksin dari virus hidup yang dilemahkan, dan vektor virus yang menggunakan virus yang tidak menyebabkan penyakit untuk mengirimkan protein khusus untuk menimbulkan respons kekebalan.

Kedua, vaksin yang menggunakan bagian tertentu dari virus (subunit). Umumnya, bagian spesifik yang digunakan untuk pengembangan jenis vaksin ini ialah senyawa protein dari virus.

Ketiga, vaksin yang menggunakan bagian genetik virus yaitu asam nukleat berupa DNA atau RNA. Komponen ini berfungsi sebagai cetak biru untuk menghasilkan protein yang menimbulkan respons imunitas khusus.

Di Indonesia sejauh ini telah terdapat 5 jenis vaksin yang telah mendapat EUL sekaligus EUA untuk digunakan di Indonesia, yaitu Sinovac dan Sinopharm yang tergolong vaksin inaktif, AstraZeneca yang tergolong vaksin vektor virus, serta Moderna dan Pfizer yang tergolong vaksin dengan memanfaatkan teknologi genetik.

Perlu menjadi perhatian bahwa sebelum dinyatakan aman dan efektif untuk digunakan, berbagai tahapan evaluasi harus dilalui. Bahkan secara statistik umumnya hanya 7 dari 100 atau sekitar 0,07% kandidat vaksin saja yang dianggap cukup mampu meneruskan ke tahap uji klinis pada manusia.

Berbagai pendekatan dalam pengembangan vaksin membuat peluang dihasilkannya lebih banyak vaksin lebih besar mengingat saat ini yang membutuhkan vaksin Covid-19 bukan hanya satu atau dua negara, namun hampir seluruh negara di dunia membutuhkannya.

Seiring dengan semakin banyaknya pasokan vaksin yang berdatangan, bahkan berpeluang bertambah jenis ke depannya, pemerintah menjamin bahwa setiap jenis vaksin yang ada sama-sama efektif.

Perbedaan angka efektivitas vaksin atau kemampuan untuk membentuk kekebalan tubuh antara satu vaksin dengan vaksin lainnya bukanlah hal yang harus dikhawatirkan.

Target spesifik vaksinasi yang telah pemerintah tetapkan telah berdasar pada temuan ilmiah saat uji klinis dilakukan. Sebagaimana yang terlihat pada ilustrasi bahwa setiap jenis vaksin telah ditetapkan target populasinya berdasarkan usia.

“Hal ini semata-mata untuk mengoptimalkan manfaat kesehatan dibandingkan efek negatifnya,” kata Wiku.

Untuk itu diharapkan masyarakat dan pihak penyelenggara vaksinasi dapat mengikuti vaksinasi sesuai prosedur yang direkomendasikan demi melindungi diri sendiri maupun orang-orang terdekat kita. Terakhir, yang terpenting yaitu vaksinasi akan menjadi sempurna jika dilakukan bersamaan dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan. (**)