Layanan RSU Massenrempulu Ditutup Sementara Bukti Bupati tak Mampu Perhatikan Kesejahteraan

oleh -110 views
oleh
Rumah Sakit Umum Massenrempulu, Kabupaten Enrekang

Dokter Anastesi Tak Ada di Tempat, Layanan Operasi RSUD Ditutup Sementara
Gambar Gravatar
Editor : Paris M Ali
Kamis, 31 Maret 2022
Dokter Anastesi Tak Ada di Tempat, Layanan Operasi RSUD Ditutup Sementara
VIEWS: 191
ENREKANG,UPEKS.co.id

Selama sepekan ke depan layanan operasi di RSUD Massenrempulu, Enrekang ditutup. Pasalnya dokter Anastesi dr. Asis, Sp. An tidak berada di tempat.

Buruknya pelayanan di RSUD Maspul khususnya dibagian operasi ini terungkap saat seorang pasien yang akan dioperasi tiba-tiba batal dioperasi karena dokter Anastesi tak ada ditempat.

“Padahal jadwal operasinya hari Senin. Pasien sudah disuruh puasa pada malam sebelum dioperasi. Tapi setelah masuk ruang operasi dan menunggu beberapa jam ternyata operasi batal dilakukan karena dokter Anastesi tidak ada,” kata salah satu keluarga pasien yang batal dioperasi pada, Senin, beberapa hari lalu.

Melihat buruknya pelayanan di Rumah Sakit Massenrempulu, pemerhati pemerintahan Kabupaten Enrekang, Ridwan Wawan Poernama menilai pemerintahan Kabupaten Enrekang gagal menghadirkan kesejahteraan masyarakat dalam hal pelayanan kesehatan.

Bahkan, insentif tenaga medis di Rumah sakit umum Massenrempulu tak terbayarkan. Lagipula pembangunan Rumah sakit Pratama Sudu sudah jelas bangunan yang menjerumuskan pejabat ke tindak pidana korupsi.

“Pemerintah kabupaten Enrekang tidak pernah memperhatikan kesejahteraan masyarakat dalam bidang kesehatan. Insentif tenaga medis saja belum terbayarkan, bagaimana mau bicara pelayanan kesehatan ke masyarakat. Rumah sakit pratama sudu kabupaten Enrekang juga di korupsi dan sampai saat ini belum di fungsikan,” ungkap, Wawan.

Namun, beberapa hari sebelumnya,  pasien lainnya dari Desa Latimojong atas nama  Rohani yang mengalami benjolan dileher juga batal dioperasi padahal pasien sudah dibawah ke ruang operasi.

Saat itu, dokter Asis ternyata berada di Toraja. Karena tak mau mengambil resiko terpaksa operasi dibatalkan dan pasien dirujuk ke Toraja untuk penindakan operasi.

Kabar yang berkembang, dokter anastesi tak masuk karena dia mogok kerja selama sepekan.

Namun saat di konfirmasi, dokter Asis menjelaskan jika dia bukan mogok kerja tapi lagi berada di Jogja menjenguk  isteri dan anak-anaknya.

“Saya ini lagi pulang kampung ke Jogja karena selama Covid-19 saya tidak pernah lihat istri dan anak-anak saya. Selain rindu sama keluarga ada juga urusan yang sangat mendesak,” ungkap dokter Azis, dikutip dari upeks

“Jadi kalau ada yang mau di operasi untuk sementara di rujuk dulu kerumah sakit lain,”tambahnya.

Selama dokter anastesi tak berada ditempat, tidak ada aktifitas layanan operasi karena pada dasarnya dokter anastesilah yang bertanggungjawab untuk tindakan operasi.

Meski ada penata anastesi di RSUD namun pada Standar Layanan Operasional (SOP) tidak dibenarkan penata anastesi melakukan anastesi. Keberadaan penata anastesi sebenarnya hanya mendampingi dokter anastesi.

“Saya penanggungjawabnya. Sebenarnya ada penata anastesi tapi mereka juga takut kalau saya tidak ada, Mereke takut kalau ada apa-apa nanti terjadi pada saat operasi berlangsung,” sebutnya.

Dokter Azis mengakui keberangkatannya ke Jogja atas ijin Kabid Pelayanan RSUD Maspul, dr. Haerul.

“Saya sudah minta ijin ke Bidang pelayanan,”jawabnya singkat.

Terpisah, saat di konfirmasi mengakui memberikan ijin karena alasannya mau menjenguk keluarganya.

“Saya juga tidak mungkin bilang tidak karena selama pandemi dia tidak pernah ketemu dengan keluarganya. Saya tanya bagaimana dengan operasi dia bilang tetap akan bertanggungjawab,” kata orang yang akrab dipanggil dokter Icul ini.

Namun penata anastesi tetap merasa terbebani melakukan operasi jika dokter anastesi tidak berada ditempat.

“Jadi selama dokter anastesi tidak ada untuk sementara pasien dirujuk dulu. Nanti kalau dia datang baru operasi jalan lagi”. Ujar Kabid Pelayanan RSUD Maspul.

Dokter Azis adalah seorang ASN, seorang dokter anastesi yang meninggalkan tugasnya sebagai ASN selama seminggu dengan mengantongi ijin dari Kepala Bidang Pelayanan dengan alasan rindu dengan keluarga.

Selain itu, meskipun dokter Azis berstatus ASN di Enrekang, namun issu yang berkembang dokter anastesi ini juga bekerja disebuah rumah sakit di Toraja.

Demikian yang menyebabkan dirinya jarang hadir di RSUD Maspulhal ini terungkap dari penjelasan secara gamblang dari salah satu penata anastesi. (*)