‘Ciri Penguasa Fir’Aunisme’

oleh -83 views

Oleh Aswar Hasan

Pemimpin Dan Penguasa itu beda. Seorang pemimpin, berpikir dan berkorban demi rakyatnya. Sementara seorang penguasa, mengorbankan rakyatnya demi kepentingan kekuasaannya, dan rakyatnya sibuk memikirkan sang penguasa tersebut, sementara penguasa itu sendiri tidak punya waktu atau tidak serius memikirkan rakyatnya. Persamaanya, sama-sama duduk di kursi kekuasaan dan punya kewenangan dalam memerintah.
Dalam sejarah, telah dihadirkan model-model penguasa dan pemimpin untuk dijadikan contoh dan pelajaran bagi umat manusia.
Ada contoh kepemimpinan Nabi Muhammad yang sejatinya bisa jadi suri tauladan bagi umat manusia. Seluruh hidupnya diabdikan bagi seluruh umat manusia yang dipimpinnya, demi keselamatan dan kemaslahatannya di dunia hingga di akhirat.

Pada tahun 1978 Michael Hart seorang Astrofisikawan, menulis sebuah buku yang menghebohkan dunia: “100 A Ranking of Most Influential Person in History” yang akhirnya menempatkan Nabi Muhammad,SAW di rangking pertama. Padahal, Michael Hart sendiri bukanlah seorang muslim dan Islam saat buku tersebut di tulis, bukanlah Agama yang penganutnya terbesar di dunia. Setidaknya, buku hasil penelitian tersebut menunjukkan fakta empiris tentang kebenaran dan kepatutan Nabi Muhammad, SAW sebagai pemimpin yang patut untuk ditauladani, sebagaimana petunjuk Al Qur’an.

Al Qur’an pun juga mengisahkan contoh model pemimpin (tepatnya penguasa) yang tidak patut dicontoh karena kezalimannya. Seperti, kisah (fakta sejarah) kepemimpinan Fir’aun.
“Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al Qashash [28]:4).

Ahmad Yani penulis tafsir tematik Al Qur’an bagi dai dalam berdakwah dalam menafsirkan ayat tersebut, membagi 5 (lima) ciri model kepemimpinan Fir’aunisme, yaitu; Pertama, berbuat sewenang-wenang, sehingga hukum ditafsirkan menurut kehendaknya sendiri, bahkan dia tidak konsekuen dengan ketentuan yang dibuatnya sendiri.

Kedua, memecah belah masyarakat, sehingga tidak ada persatuan, yang ada justru terjadi permusuhan antar satu orang dengan orang lain, satu kelompok dengan kelompok lain, konflik terus berkepanjangan.

Ketiga, menindas orang yang tidak disukainya, karena menghambat kezaliman yang dilakukannya. Apalagi semakin dia zalim, semakin nampak kebodohannya.

Keempat, membunuh warganya, meskipun tidak bersalah, dan ia mencari pembenaran atas perbuatan sadis itu.
Kelima, terus melakukan kerusakan di muka bumi ini, baik merusak lingkungan hidup maupun merusak peradaban manusia.

Kita tentu tidak ingin pemimpin berubah menjadi penguasa yang ditakuti masyarakat. Kita butuh pemimpin sejati yang dicintai rakyatnya, bukan dibenci, meskipun ada bagian dari rakyat yang menghormatinya karena kepentingan duniawi.

Boleh jadi, gaya model kepemimpinan Fir’aun tersebut telah ditiru oleh para penguasa di dunia saat ini, lalu berkembang menjadi Fir’aun kecil. Olehnya itu dibutuhkan Musa-Musa kecil untuk menumbangkan Fir’aun kecil tersebut.

KESOMBONGAN FIR’AUN
Penguasa yang telah dihinggapi sifat Fir’aunisme saat berkuasa dihinggapi sifat kesombongan yang diantaranya dicirikan dengan sifat merasa benar sendiri, dan menolak kebenaran, sebagaimana di gambaran dalam Al Qur’an, sebagai berikut:
Pertama, Egois dengan selalu memakai bahasa kekuasaan “Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Wahai kaumku! Bukan kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai ini (sungai Nil) mengalir di bawahku; Apakah kamu tidak melihat? (QS. Az Zukhruf:51).

Kedua, bicaranya tidak bisa dipercaya karena pandai bersandiwara, sebagaimana Al Qur’an menggambarkan; “Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras (QS. Al Baqarah: 204).

Ketiga, keputusannnya sebagai penguasa melampaui batas demikian pun tindakannya. “Maka pergilah engkau -wahai Musa- kepada Fir’aun, sesungguhnya dia benar-benar telah melampaui batas”. (QS. Thaha:24).

Keempat, telah berkolaborasi dengan konglomerat (Karun) diperkuat oleh para cendekiawan Istana (Haman) dan mereka bersekongkol untuk bersepakat menolak kebenaran dengan keangkuhan mereka. Atas dasar posisinya itu; “dan (juga) Karun, Fir‘aun dan Haman. Sungguh, telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka orang-orang yang tidak luput (dari azab Allah). (QS. Al Ankabut: 39).

Kesombongan kepemimpinan model Fir’ aunisme itu akhirnya menjadi latar penyebab runtuhnya kekuasaan mereka. Demikian lah hukum kekuasaan yang zalim tidak akan bisa bertahan lama. Akan ada counter partnya. Fir’aun akan dihadapi oleh Musa dan Harun, Namrut oleh Ibrahim hingga pasukan Thalud ( Nabi Daud) yang dianggap lemah menaklukkan pasukan Jalut (yang Raksasa, -kuat-) atau biasa disebut David melawan Goliad, dan Jalut atau Goliat pun tersungkur dalam kekalahan yang telak. Jika kebathilan sudah berhadap- hadapan dengan Al Haq (kebenaran) lambat atau cepat, kebenaran pasti keluar sebagai pemenangnya. Maka, Janganlah ragu memperjuangkan dan berjuang bersama orang-orang yang benar.

Karena kebenaran itu pasti datangnya dari Tuhanmu dan jangan menjadi orang yang ragu atas kebenaran itu. “Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.”(QS. Al-Baqarah:147). Wallahu a’lam Bishawwabe